Berkebun dan Sakit Pinggang

Desember 24, 2006

Sudah dua hari ini habis waktu seharian dengan berkebun. Puihhh! tak hanya lelahnya yang menyita tenaga, tapi juga awwww! tangan pada kapalan dan lecet. Berkebun memang tak afdol tanpa menata dedaunan, menggunting ranting dan macul. Iya macul!

Moder bilang, “Sudah lah Srintil, jangan suka macul-macul kayak laki-laki. Kamu juga harus ingat usiamu tidak muda lagi. Sudah 30, hati-hati tuh pinggang!”

“Iya-ya Moder…” Srintil mengiyakan sambil tersenyum geli. Dalam hati Srintil membenarkan ucapan ibunya. Pinggang Srintil terseleo selagi menjabut akar pohon kembang sepatu yang tingginya sudah mencapai 2,5 meter. Awalnya Srintil tak berniat memberitahukan ibunya. Tapi karena sakitnya tidak main-main, bocor juga akhirnya.

Dan ibu yang baik, penyayang serta penuh perhatian itu lantas mengurut pinggang dan bagian bokong Srintil dengan menggunakan minyak tawon.”Alhamdulillah” Srintil bersyukur dalam hati. Srintil pun membatin; “Jasa ibuku tak terukur dan tak ternilai. Maka kewajibanku untuk selalu berbakti padanya…”

Tak hanya moder yang mengurut Srintil. Gus Man pun selalu ada di sisi Srintil ketika Srintil berkeluh kesah sakit. Gus Man dengan hangat dan penuh kasih sayang mengurut pinggang Srintil juga di malam harinya. “Ahhh suamiku tersayang…”

Aha! pinggang sembuh, kebun makin cantik!

Catatan:

Menjabut=Mencabut. Kata “menjabut” selalu diucapkan Gus Man pada Srintil. Dan setiap kali mendengar suaminya mengucap kata itu Srintil selalu tertawa.

30 tahun di 20 Desember 2006

Desember 22, 2006

Biar Dekat

Oleh Gus Man untuk Srintil

Aku ingin merenungimu lagi

Biar dekat badan di jiwa sepi sekarang ini

Aku ingin melihatmu dari jauh

Karena engkaulah sumber cahaya

Kendil sesekali gelap

Tapi cahaya matamu bak penyala abadi

Tiada henti mengajarkan budi hidup

Kini,

Tiada sesat memilihmu

Di dekat kini, engkau tetap hatiku

Bandung 22 Desember 2006

 

Dimandikan Mak Mertua

Desember 22, 2006

Kamar mandinya begitu lembab, gelap dan dingin. Demikian karena dindingnya hanya dilapisi tembok semen ala kadar, tak berkeramik. Atapnya pun tinggi, bukan dengan eternit tapi bilik. Suasana seperti ini mengingatkan Srintil pada jamban kakeknya. Hingga tua kakek itu tak bisa merasakan kenyamanan berjamban sendiri.

Di kamar mandi itulah Srintil dimandikan oleh Mak. Selesai mandi lantas Mak mendoakannya. Dalam keadaan terheran heran karena kejadian tersebut, Srintil pun terbangun.

“Kenapa tidak cerita sejak pagi?”, Gus Man, suaminya bertanya. Ia lantas melanjutkan, “Aku kan bisa ke perpustakaan untuk lihat tafsirnya di kitab tafsir mimpi”.

Hujan deras tak reda reda di sini. Itu makanya hingga jam 22.07 ini Gus Man tidak pergi ke perpustakaan itu.

“Bagaimana mas? kira kira menurutmu apa sih arti mimpi itu?”, Srintil bertanya dengan mata penuh harap. “Kalau ditafsir kasar, mandi adalah simbol kebersihan dan kesucian. Ketika orang hendak pergi, ia akan mandi terlebih dulu agar tubuhnya lebih baik dan segar. Mak yang memandikanmu. Kemudian membekalimu dengan doa. Ini artinya kamu sedang dipersiapkan atau sedang diproses menuju keberangkatan ke sesuatu yang lebih baik bagi dirimu. “

Perbincangan pun terhenti…