Judul ini Diganti

Januari 26, 2007

Gara-gara komentar ini:

liat komennya ardhi…dan jangan suka berprasangka…komen itu cermin diri lho…

Masih di tempat komentar yang sama, Srintil lantas merespons kembali komentar tersebut dalam blog seseorang. Demikian ekspresifnya karena Srintil merasa harga dirinya tersungging dibilang suka berprasangka.

“Weleh-weleh aku kok dibilang tukang prasangka” batin Srintil. “Tidak Terima!” lanjutnya karena Srintil selalu menulis komen -dengan menyertakan taut atau tidak- berdasarkan fakta pengalaman pribadi.

Tidak mau dibilang berprasangka, Srintil menuangkan argumen dalam kepalanya dengan awalan: “…kau jangan berprasangka dulu dengan mengatakan orang lain suka berprasangka..berikut adalah pernyataanku (berdasarkan pengalaman pribadi mengkoordinir team dalam bbrp harokah) tentang para akhi dan akhwat itu….” dan bla bla bla..lengkap dengan pernyataan keterlibatan Srintil di medan gerakan.

Hingga kurang lebih 5 paragraf dengan 2-3 kalimat di dalamnya, Srintil menanggapi komentar Pak Passya tersebut. Pernyataan Pak Pasya pada Srintil: “…komen itu cermin diri lho…” ditanggapi dengan pernyataan kurang lebih: “….bagiku kejujuran dan kelurusan lebih utama (selain tidak berprasangka buruk) daripada jaim yang dipersolek dalam penampilan, bungkus dan topeng.”

“Sayang, seribu sayang, tanggapan balikku yang berbusa-busa dan berbaris-baris itu tidak tampil, nyangkut di wp-kah atau difilter?” batin Srintil.