Pak Tua
Januari 27, 2007
Sebagian perempuan akan merasa tertekan jika dalam waktu tertentu tidak belanja pakaian, sepatu, tas dan aneka aksesori fashion lainnya. Srintil pun akan merasakan hal yang sama. Tapi bukan pada fashion melainkan pada floral. Dalam tempo seminggu saja tidak ke tukang tanaman, nursery, atau tempat pamer dan jual tanaman lainnya, Srintil sulit berkonsentrasi pada kerjaan atau tulisan yang digarapnya.
Ke luar daerah atau negara lain Srintil tak pernah lupa untuk berburu si kembang dan si pohon. Kalau sudah begitu, tak peduli berapa uang yang dibelanjakan, yang penting tanaman yang direncanakan untuk diburu bisa digenggam.
Di antara sekian tempat, yang berkesan dan sering ada di memori hanya tempatnya Pak Tua. Lokasinya di sebelah Kebon Binatang, depan BNI kampus ITB. Sejak masih kuliah semester II, Srintil berlangganan pada Pak Tua ini. Di tempat tersebut, selagi pulang kuliah, Srintil sering mampir, kemudian nongkrong dan keliling-keliling cari tanaman.
Sebenarnya tidak ada yang istimewa di tempat itu, Srintil hanya suka karena koleksi tanaman Pak Tua tidak pernah mengikuti tren komersil tanaman. “Dia mah dari dulu gitu-gitu aja koleksinya, jenis tanaman jaman baheula, yang umumnya dikoleksi ibu-ibu dan nenek-nenek tua”, demikian jawab Srintil ketika seorang teman bertanya.
Koleksi tanaman Pak Tua bisa dihitung, maklum dengan modal kecil si Pak Tua mengembangkan lahan pencariannya hanya dengan budidaya. Sangat jarang sekali dia berburu jenis tanaman lain, apalagi mengikuti tren sekarang, seperti anthurium, adenium, begonia, kamboja jepang (plumeria), dll.
Meski sudah sangat lanjut, Pak Tua tetap sehat dan berumur panjang. Bisa jadi benar yang dikatakan orang, bahwa seorang perawat tanaman konon suka berumur panjang.
Belajar dari Dahlia
Januari 26, 2007
Di tamanku hanya ada dua warna kembang dahlia. Menurutku yang putih lebih elok ketimbang yang oranye.
Itu ciri dahlia dalam hal warna. Ciri lainnya, kelopak bertumpuk, lebat, dan organ kembang merunduk. Meski terkena sinar matahari langsung, kembang dahlia enggan tegak sebagaimana kembang lainnya yang menantang matahari.
Dahlia sejak kuncupnya mulai berkembang terus merunduk, bahkan hingga besar pun tetap merunduk. Kian tua kian merunduk. Ini wajar, karena batangnya tidak berkayu, tidak kuat menahan beban karena di saat mengembang secara matang ukurannya sangat besar, lebih besar dari ukuran mawar besar.
Orang banyak mengibaratkan kata ‘merunduk’ dengan ilmu padi, padahal kembang dahlia pun memiliki ciri serupa. Jika dahlia, makin mengembang makin merunduk, maka padi akan merunduk ketika makin berisi.
Tapi, seorang mantan jenderal Kopasus, pernah mengatakan agar jangan merunduk terus ketika makin berisi atau kian berkembang, karena Anda bisa Diinjak (Ed: atau DiDOR!)
Berkebun dan Sakit Pinggang
Desember 24, 2006
Sudah dua hari ini habis waktu seharian dengan berkebun. Puihhh! tak hanya lelahnya yang menyita tenaga, tapi juga awwww! tangan pada kapalan dan lecet. Berkebun memang tak afdol tanpa menata dedaunan, menggunting ranting dan macul. Iya macul!
Moder bilang, “Sudah lah Srintil, jangan suka macul-macul kayak laki-laki. Kamu juga harus ingat usiamu tidak muda lagi. Sudah 30, hati-hati tuh pinggang!”
“Iya-ya Moder…” Srintil mengiyakan sambil tersenyum geli. Dalam hati Srintil membenarkan ucapan ibunya. Pinggang Srintil terseleo selagi menjabut akar pohon kembang sepatu yang tingginya sudah mencapai 2,5 meter. Awalnya Srintil tak berniat memberitahukan ibunya. Tapi karena sakitnya tidak main-main, bocor juga akhirnya.
Dan ibu yang baik, penyayang serta penuh perhatian itu lantas mengurut pinggang dan bagian bokong Srintil dengan menggunakan minyak tawon.”Alhamdulillah” Srintil bersyukur dalam hati. Srintil pun membatin; “Jasa ibuku tak terukur dan tak ternilai. Maka kewajibanku untuk selalu berbakti padanya…”
Tak hanya moder yang mengurut Srintil. Gus Man pun selalu ada di sisi Srintil ketika Srintil berkeluh kesah sakit. Gus Man dengan hangat dan penuh kasih sayang mengurut pinggang Srintil juga di malam harinya. “Ahhh suamiku tersayang…”
Aha! pinggang sembuh, kebun makin cantik!
Catatan:
Menjabut=Mencabut. Kata “menjabut” selalu diucapkan Gus Man pada Srintil. Dan setiap kali mendengar suaminya mengucap kata itu Srintil selalu tertawa.