Owh

Februari 5, 2007

Still no time to write on blog..

Senin pagi ini

Januari 28, 2007

Beginilah hidup dengan seorang pemikir dan kutu buku. Daya tahan Srintil dalam membaca masih jauh untuk menandingi Gus Man. Gus Man selalu ingin tidur tidak hanya denganku, tapi dengan mereka juga, buku-buku itu. Kalau Srintil berdisiplin membaca hanya di meja kerja dan di taman, maka Gus Man tidak pandang tempat. Sering Srintil geram karena ranjang tidurnya jarang rapi. Buku-buku Gus Man berserakan hingga ke lantai, meskipun ada tempat khusus untuk mereka.

“Gus Man .. Gus Man, kenapa sih Gus ini selalu marah jika karena kelupaan aku tak sengaja menaruh cangkirku di atas koran-koranmu?” sungut Srintil.

Ya Bunda

Januari 28, 2007

Duuuh bundaku sayang, hampir sebelas tahun aku meninggalkanmu. Baru saja tersadar setelah memperhatikanmu lebih dekat dan seksama; ternyata lehermu kini tampak berkeriput. Tubuhmu masih subur meski tidak lagi sebesar dulu-dulu. Kerut-kerut di lehermu makin mengesankan leher yang tidak lagi kencang, tampak kendur, menciut, memberi tanda bahwa usiamu kini kian tua.

Ya Allah, semoga Engkau beri kemampuan padaku untuk senantiasa bisa mendampingi, menemani, menjaga Bunda dan Ayah serta merawat mereka kelak di kala lanjut dan diberi umur panjang dalam beribadah padaMu.

Dijepit sakit

Januari 28, 2007

Kalau tidak di kebun, tidak dengan klien, maka Srintil -masih seperti kebiasaannya sejak pertama kali kuliah- akan betah di meja kerja bercengkrama dengan komputer dari usai sholat subuh hingga menjelang subuh lagi.

Dan, inilah kenyataannya jika sejak 2 bulan terakhir ini dia didampingi sang ibu untuk program ‘cepat hamil’, maka entahlah dengan program tersebut. Yang jelas Srintil kian gembrot karena makan berlebihan. Hari ini saja, mulai jam 8 pagi, sang bunda (Srintil memanggilnya ‘Moder’) sudah menyodorkan sup hangat berisi brokoli & wortel setengah matang, jagung manis, kembang tahu, potongan sosis ayam, dan kikil empuk.

Kemudian jam 10 teng, cluk kucluk kucluk, Moder datang ke meja Srintil dan berbisik, “Sana, Moder beli kepiting, tolong masak olehmu..Moder gak bisa karena gak pernah masak kepiting.” Di kala sibuk dengan kerjaan, Moder tak pernah berani menyuruh-nyuruh Srintil. (Srintil dan ibunya memang saling pengertian). Tapi karena ini hari Minggu, Moder tak enggan menyuruhnya.

Jus! “Aaaaaaaaaawwwwwwww!!!!!”, teriak Srintil. Kaget namun sigap Moder yang sedang masak masakan lain datang ke arah Srintil dan mengetrok punggung kepiting dengan sendok, sementara sang kepiting masih saja menjepit telunjuk serta jempol tangan kiri Srintil dan menusuknya hingga kedalaman 0.5 cm. Saat mencucinya, Srintil memang mengira kepiting tersebut sudah mati. Usai kepiting masak, Moder menyuruh Srintil melahap kepiting tersebut panas-panas.

Meski semua menu dimakan tanpa nasi, Srintil bisa merasakan jika rok, celana jins, atau blusnya terasa sempit. Beginilah kalau dikasih hujan terus dari pagi-sore, Srintil dan Gus Man jadi jarang jogging lagi di lapangan kebon kangkung.

Belum sampai jam 1 siang, di samping meja sudah tersedia Iga sapi bakar kecap lengkap dengan kuah beningnya. Hmm, Srintil selalu kesulitan menolak Moder. Dilahap juga tuh masakan lezat. “Enek..enek deh”, batin Srintil. Belum selesai mengeluh dalam batin, Moder memberi kejutan dengan rujak bebeuk segar yang isinya; serutan bengkoang, potongan kotak kecil cau manggala muda, irisan jambu air, mangga muda, dan ubi mentah dengan kuah berbumbu kacang halus, cabai merah dan bawah putih.