Owh

Februari 5, 2007

Still no time to write on blog..

“Sol patuu!”

“Puuuk…kurupuk”

“Piiiim”

“Las panci…las katel”

“Hordeng! hordeng!”

“Koran bekas, botol botol..”

“towet..towet…balon..balon”

“Putuuuu..putuuuuu”

“Servis payung..servis payung”

Senin pagi ini

Januari 28, 2007

Beginilah hidup dengan seorang pemikir dan kutu buku. Daya tahan Srintil dalam membaca masih jauh untuk menandingi Gus Man. Gus Man selalu ingin tidur tidak hanya denganku, tapi dengan mereka juga, buku-buku itu. Kalau Srintil berdisiplin membaca hanya di meja kerja dan di taman, maka Gus Man tidak pandang tempat. Sering Srintil geram karena ranjang tidurnya jarang rapi. Buku-buku Gus Man berserakan hingga ke lantai, meskipun ada tempat khusus untuk mereka.

“Gus Man .. Gus Man, kenapa sih Gus ini selalu marah jika karena kelupaan aku tak sengaja menaruh cangkirku di atas koran-koranmu?” sungut Srintil.

Ya Bunda

Januari 28, 2007

Duuuh bundaku sayang, hampir sebelas tahun aku meninggalkanmu. Baru saja tersadar setelah memperhatikanmu lebih dekat dan seksama; ternyata lehermu kini tampak berkeriput. Tubuhmu masih subur meski tidak lagi sebesar dulu-dulu. Kerut-kerut di lehermu makin mengesankan leher yang tidak lagi kencang, tampak kendur, menciut, memberi tanda bahwa usiamu kini kian tua.

Ya Allah, semoga Engkau beri kemampuan padaku untuk senantiasa bisa mendampingi, menemani, menjaga Bunda dan Ayah serta merawat mereka kelak di kala lanjut dan diberi umur panjang dalam beribadah padaMu.

Dijepit sakit

Januari 28, 2007

Kalau tidak di kebun, tidak dengan klien, maka Srintil -masih seperti kebiasaannya sejak pertama kali kuliah- akan betah di meja kerja bercengkrama dengan komputer dari usai sholat subuh hingga menjelang subuh lagi.

Dan, inilah kenyataannya jika sejak 2 bulan terakhir ini dia didampingi sang ibu untuk program ‘cepat hamil’, maka entahlah dengan program tersebut. Yang jelas Srintil kian gembrot karena makan berlebihan. Hari ini saja, mulai jam 8 pagi, sang bunda (Srintil memanggilnya ‘Moder’) sudah menyodorkan sup hangat berisi brokoli & wortel setengah matang, jagung manis, kembang tahu, potongan sosis ayam, dan kikil empuk.

Kemudian jam 10 teng, cluk kucluk kucluk, Moder datang ke meja Srintil dan berbisik, “Sana, Moder beli kepiting, tolong masak olehmu..Moder gak bisa karena gak pernah masak kepiting.” Di kala sibuk dengan kerjaan, Moder tak pernah berani menyuruh-nyuruh Srintil. (Srintil dan ibunya memang saling pengertian). Tapi karena ini hari Minggu, Moder tak enggan menyuruhnya.

Jus! “Aaaaaaaaaawwwwwwww!!!!!”, teriak Srintil. Kaget namun sigap Moder yang sedang masak masakan lain datang ke arah Srintil dan mengetrok punggung kepiting dengan sendok, sementara sang kepiting masih saja menjepit telunjuk serta jempol tangan kiri Srintil dan menusuknya hingga kedalaman 0.5 cm. Saat mencucinya, Srintil memang mengira kepiting tersebut sudah mati. Usai kepiting masak, Moder menyuruh Srintil melahap kepiting tersebut panas-panas.

Meski semua menu dimakan tanpa nasi, Srintil bisa merasakan jika rok, celana jins, atau blusnya terasa sempit. Beginilah kalau dikasih hujan terus dari pagi-sore, Srintil dan Gus Man jadi jarang jogging lagi di lapangan kebon kangkung.

Belum sampai jam 1 siang, di samping meja sudah tersedia Iga sapi bakar kecap lengkap dengan kuah beningnya. Hmm, Srintil selalu kesulitan menolak Moder. Dilahap juga tuh masakan lezat. “Enek..enek deh”, batin Srintil. Belum selesai mengeluh dalam batin, Moder memberi kejutan dengan rujak bebeuk segar yang isinya; serutan bengkoang, potongan kotak kecil cau manggala muda, irisan jambu air, mangga muda, dan ubi mentah dengan kuah berbumbu kacang halus, cabai merah dan bawah putih.

ngonsep & ngoding

Januari 27, 2007

sedang tak ingin

terus minta

jalani saja

toh setiap main

akan orgasme juga

orgasme ketika

setiap yang ditunggu

datang tepat waktu

inilah

dunia

ngonsep & ngoding

Pak Tua

Januari 27, 2007

Sebagian perempuan akan merasa tertekan jika dalam waktu tertentu tidak belanja pakaian, sepatu, tas dan aneka aksesori fashion lainnya. Srintil pun akan merasakan hal yang sama. Tapi bukan pada fashion melainkan pada floral. Dalam tempo seminggu saja tidak ke tukang tanaman, nursery, atau tempat pamer dan jual tanaman lainnya, Srintil sulit berkonsentrasi pada kerjaan atau tulisan yang digarapnya.

Ke luar daerah atau negara lain Srintil tak pernah lupa untuk berburu si kembang dan si pohon. Kalau sudah begitu, tak peduli berapa uang yang dibelanjakan, yang penting tanaman yang direncanakan untuk diburu bisa digenggam.

Di antara sekian tempat, yang berkesan dan sering ada di memori hanya tempatnya Pak Tua. Lokasinya di sebelah Kebon Binatang, depan BNI kampus ITB. Sejak masih kuliah semester II, Srintil berlangganan pada Pak Tua ini. Di tempat tersebut, selagi pulang kuliah, Srintil sering mampir, kemudian nongkrong dan keliling-keliling cari tanaman.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa di tempat itu, Srintil hanya suka karena koleksi tanaman Pak Tua tidak pernah mengikuti tren komersil tanaman. “Dia mah dari dulu gitu-gitu aja koleksinya, jenis tanaman jaman baheula, yang umumnya dikoleksi ibu-ibu dan nenek-nenek tua”, demikian jawab Srintil ketika seorang teman bertanya.

Koleksi tanaman Pak Tua bisa dihitung, maklum dengan modal kecil si Pak Tua mengembangkan lahan pencariannya hanya dengan budidaya. Sangat jarang sekali dia berburu jenis tanaman lain, apalagi mengikuti tren sekarang, seperti anthurium, adenium, begonia, kamboja jepang (plumeria), dll.

Meski sudah sangat lanjut, Pak Tua tetap sehat dan berumur panjang. Bisa jadi benar yang dikatakan orang, bahwa seorang perawat tanaman konon suka berumur panjang.

Belajar dari Dahlia

Januari 26, 2007

Di tamanku hanya ada dua warna kembang dahlia. Menurutku yang putih lebih elok ketimbang yang oranye.

Itu ciri dahlia dalam hal warna. Ciri lainnya, kelopak bertumpuk, lebat, dan organ kembang merunduk. Meski terkena sinar matahari langsung, kembang dahlia enggan tegak sebagaimana kembang lainnya yang menantang matahari.

Dahlia sejak kuncupnya mulai berkembang terus merunduk, bahkan hingga besar pun tetap merunduk. Kian tua kian merunduk. Ini wajar, karena batangnya tidak berkayu, tidak kuat menahan beban karena di saat mengembang secara matang ukurannya sangat besar, lebih besar dari ukuran mawar besar.

Orang banyak mengibaratkan kata ‘merunduk’ dengan ilmu padi, padahal kembang dahlia pun memiliki ciri serupa. Jika dahlia, makin mengembang makin merunduk, maka padi akan merunduk ketika makin berisi.

Tapi, seorang mantan jenderal Kopasus, pernah mengatakan agar jangan merunduk terus ketika makin berisi atau kian berkembang, karena Anda bisa Diinjak (Ed: atau DiDOR!)

Judul ini Diganti

Januari 26, 2007

Gara-gara komentar ini:

liat komennya ardhi…dan jangan suka berprasangka…komen itu cermin diri lho…

Masih di tempat komentar yang sama, Srintil lantas merespons kembali komentar tersebut dalam blog seseorang. Demikian ekspresifnya karena Srintil merasa harga dirinya tersungging dibilang suka berprasangka.

“Weleh-weleh aku kok dibilang tukang prasangka” batin Srintil. “Tidak Terima!” lanjutnya karena Srintil selalu menulis komen -dengan menyertakan taut atau tidak- berdasarkan fakta pengalaman pribadi.

Tidak mau dibilang berprasangka, Srintil menuangkan argumen dalam kepalanya dengan awalan: “…kau jangan berprasangka dulu dengan mengatakan orang lain suka berprasangka..berikut adalah pernyataanku (berdasarkan pengalaman pribadi mengkoordinir team dalam bbrp harokah) tentang para akhi dan akhwat itu….” dan bla bla bla..lengkap dengan pernyataan keterlibatan Srintil di medan gerakan.

Hingga kurang lebih 5 paragraf dengan 2-3 kalimat di dalamnya, Srintil menanggapi komentar Pak Passya tersebut. Pernyataan Pak Pasya pada Srintil: “…komen itu cermin diri lho…” ditanggapi dengan pernyataan kurang lebih: “….bagiku kejujuran dan kelurusan lebih utama (selain tidak berprasangka buruk) daripada jaim yang dipersolek dalam penampilan, bungkus dan topeng.”

“Sayang, seribu sayang, tanggapan balikku yang berbusa-busa dan berbaris-baris itu tidak tampil, nyangkut di wp-kah atau difilter?” batin Srintil.

Kasih di sana

Januari 26, 2007

Stop memverbalkan kata ‘kasih’ detik ini juga

Karena kasih sejati ada di tempat jauh

Kasih yang berkesan ingin kita tuliskan bagi khalayak

Kasih sesungguhnya bukan yang di sebelah kita

Ia semu

Sekadar rutinitas

Sering menjengahkan

Memporak-porandakan cita-cita

Biarlah kita saling mencari kasih jauh

Karena cita-cita terlahir saat bersamanya dulu